Sabtu, 30 April 2011

About Father

So fathers, be good to your daughters

Daughters will love like you do

Girls become lovers who turn into mothers

So mothers, be good to your daughters too

Daughters - John Mayer

Another beautiful song from John Mayer, telling how important it is to be good to his daughter.. (Buat yang suka JM pasti ngerti dong?? Ini lagu agak jadul dari albumnya yang 'Heavier Things' :p)

Seorang ayah (kalo saya manggilnya bapak :)) seharusnya berbuat baik ke anak perempuannya. Dimana ayahlah yang biasanya jadi sosok laki-laki ideal pertama in an eye of little girl. Dulu saya gitu. Saya lebih pengen jadi insinyur seperti bapak saya ketimbang jadi dokter gigi seperti ibu saya. Karena ya, saya ngeliat bapak saya pinter banget. Kalo ada PR saya pasti tanya ke beliau. Meskipun saya sering diajarin sampe nangis-nangis. Hehe.. Begitu pula anak cowok yang belajar ngehargain cewek dari Ibunya. Bahkan sampe ada mother complex disorder. Gue gabisa ngebayangin ketika ada kasus pelecehaan ayah kepada anak ceweknya. That’s must be make that poor girl into broken pieces definitely. Atau anak cowok yang merkosa ibunya. Atau mungkin seorang anak yang gak pernah ngobrol dari hati ke hati sama sekali ke kedua orangtuanya. One thing you boys and girls must to know. Be nice with your parents as possible as you can be. Or you will regret it someday. And you will.

The Soundtrack..

video

And recommended site, story, and photograph collection about father. It’s like a personal web dedicated from a son to his father who have been passed away. Very touching. Super duper worthed to visit.

Click Here

Book : Remember When by Winna Efendi


Baru baca (pinjem) buku a.k.a novel dari seorang temen. Novel ringan. Bisa abis (klo obsesi karena udah lama gak megang novel kayak gue) dalam 3 jam. Gak tau bisa dikategorikan teenlit atau bukan. Ceritanya lumayan ringan tentang kisah cinta, persahabatan masa SMA. Selain dialog-dialognya, gaya bahasa si penulis formal. Dan banyak quotes bagus bertaburan. Yah, jadi kita bisa sebut ini novel-remaja-yang-agak-lebih-berat-dari-teenlit. Bisa? Hehe..

Ceritanya ada dua pasang sahabat cowok dan cewek. Freya yang sobatan sama si Anggia a.k.a Gia dan Andrian yang sobatan sama Moses. Di awal cerita udah ada adegan taksir-taksiran co cweet gitu antara si Andrian-Gia, Moses-Freya. Dan 2 pasangan itu jadian deh. Hoho..

Cara penceritaan buku ini menarik deh. Lumayan kreatif. Jadi cerita dibagi-bagi ke masing-masing 4 sudut pandang si 4 karakter utama. Jadi kita bakal ngerti isi pikiran masing-masing si karakter. Gaya tulisannya juga ngikutin sifat masing-masing karakter. Misal si Andrian yang easy going, sporty, jago basket, dan ramah gaya bahasanya ringan dan agak informal. Moses yang pinter, ketua Osis, agak kaku, dan rasional, gaya nulisnya ya juga “Moses” banget berikut cara mikirnya. Lalu ada Gia yang kembang sekolah, cantik, jago ngelukis, tiap hari makan di kantin dengan geng-geng cowok yang ganti-ganti (bikin Adrian ribet ngajak makan siang), sama Freya yang sebenernya cantik juga sih.. tapi agak ketutup sama sifat dia yang introvert, pendiam, karena kehilangan Ibunya, tapi otaknya encer (dia dan Adrian ceritanya penghuni rangking umum ke1&2) dan punya selera musik yang gak disangka-sangka.

Gaya cerita yang kayak gitu jadi ngingetin sama novelnya Jodi Picoult yang "Sister’s Keeper" deh. Trus Banyaknya quotes yang bertaburan juga bikin inget sama “5 cm”nya Dhonny Dirgantoro. But however, Winna Effendi has her own style. Lebih ringan dan lebih cewek kalo menurut gue. Hehe..

Nah.. Karena sobatan semua. Mereka juga jadi sering double date gitu. Dan everything looks fine sampai 2 tahun mereka masih bertahan sama pasangan masing-masing. Dan masing-masing pasangan ini karakter hubungannya juga beda. Secara ini novel remaja, pasti ketebak dong! Si Adrian-Gia yang lebih “rame” seringnya putus sambung tapi klo lagi adem ayem seringnya looks like perfect couple dan gak risih memperlihatkan public affection. Sedangkan Freya – Moses hubungannya setenang waduk yang gada ikannya. Hehe.. So Smooth.. Sampe si Erik temen deket Freya sedari SD yang ngerti dia banget bosen ngeliatin mereka gitu-gitu aja dan nyaranin Freya putus aja dari Moses yang sibuk setengah mati karena kegiatan Osisnya. Tapi Freya – Moses yang model pacarannya perpus – rumah – teras Freya – ngerjain PR bareng – dan sejenisnya, ngerasa fine-fine aja. (Di permukaan). Dalam hati Freya pengen hubungannya dengan Moses lebih berwarna... kayak Adrian-Gia (yang menurut Freya very happy couple according to cerita Gia yang selalu curhat sama Freya tentang Adrian). Nah lo!!

So, pasti udah pada nangkep ada isu affair.. Yak, oke, gue beberin aja.. Masalah mulai tumbuh. Pas gak sengaja ada masa – masa dimana Adrian – Freya berdua. Adrian ngerasa ada yang beda sama Freya. Selera music mereka ternyata sama, Freya ternyata bisa asik juga diajak ngobrol, dan dia ngerasa nyaman ama dia. Waow.. Bahaya.. Hehe.. Apalagi setelah nantinya Adrian mendapat musibah yang gak disangka-sangka, membuat dia lebih deket ama Freya karena merasa senasib dan merasa cuma Freya yang ngerti gimana rasanya dapat musibah kayak gitu. Hehe.. Ketauan gak ceritanya?

Endingnya, menurut gue, sooo klise dan kecepetan. Hehe.. Sori mbak Winna Effendi. Tapi dibalik itu gue suka banget dengan alur ceritanya yang berbeda-beda sesuai sudut pandang masing-masing tokoh. Bacanya enjoy n nyantai banget. Hal menarik lainnya justru gue liat pada tokoh karakter Erik yang gue kategorikan sebagai Peran-Pembantu-Yang-Gak-Keliatan. Sejujurnya karena gue ngerasa ni peran gue banget. Hehe.. bukan karena dia pendek, tapi karena dia sebenernya penting. Karakter si Erik yang sohiban banget sama Freya ini ngebantu banget bagi para pembaca untuk memahami Freya yang introvert bahkan sama perasaannya sendiri. Selanjutnya yang gue sadari menarik lainnya adalah kriteria cewek ke cowok tu basicly is the same. Iya gak si? Kita gak suka cowok ngebosenin. Haha.. Cewek tu gampang bosen dan kita pengen dimengerti (iklan lewat).. Bahkan untuk ukuran cewek kayak Freya, dia bisa suka sama cowok yang sedikit memberontak kayak Adrian. (Oke gue gak ngerti apa Freya suka ama ni cowok karena sifat pemberontaknya atau gak? Hehe)

Ni novel sebenernya hasil revisi novel Winna Effendi jaman dulu yang berjudul “Kenangan Abu-Abu” yang menurut gw covernya yang sekarang so much better dari yang dulu. Hehe.. Kalo aja, Kenangan Abu-Abu ditulis dan meledak pas jaman twitter kayak gini, gw jamin bakal banyak kata galau dan jadi TT sebagai novel galau. Karena, yes, ni novel ngubek-ngubek kegalauan para tokohnya. But somehow “galau-nya” in the good and charming way. Hehe (bahasa gw jadi gak indah gini dah, :p)

Oya, btw Quotes paling nempel dan ngena menurut gw adalah..

“Life is not the amount of breaths you take, it’s the moments that take your breath away” – The Hitch

Wow.. Ini quotes muncul ketika Freya lagi galau-galaunya sama perasaannya ke Adrian. Dan menurut gw kata-kata diatas ngejawab semuanya. Hehe..

Ehm, karena buku ini gw jadi penasaran juga deh sama buku-buku Winna Effendi lainnya. Ternyata bukunya udah sering gw liat di toko buku. Sering udah pengen gw beli karena covernya menarik. Tapi gak jadi-jadi (baca:kere). Hehe.. Di bawah ini salah 2 buku-bukunya Winna Effendi yang lainnya. Ada yang mau beliin? :p


Movie : Tanda Tanya/ “?”

“Masih Pentingkah Kita Berbeda”


Telat gak kalo gue baru nge-review film “?” sekarang? Siap2 ya!! Postingan ini bakal panjang!! ;)

Ini film buat pecinta film Indonesia, “kudu nonton”. Terlepas dari banyaknya pro-kontra sama ini film, menurut gue sih semuanya tergantung dari cara pandang kita aja selama menontonnya. Seperti kata seorang tokoh dalam film ini. . “ Saya gak pernah tau suatu umat yang rusak karena sebuah pertunjukan drama. Suatu umat rusak karena moralnya”. Setuju pak!! Kalo film ini mau di-banned, apa kabar tuh film-film hantu esek-esek yang mungkin menurut kalian lebih “bermoral” dari film ini sehingga masih pada gentayangan di Indonesia, hah? Ya gak? Hehe..

Okay! Enough chit-chat! Film “?” ini adalah karya film terbaru dari mas Hanung Bramantyo. Berlatar belakang kehidupan keluarga yang berbeda-beda. Dikelilingi, kelenteng, masjid, dan gereja. Karena background-nya berbeda-beda, gue agak gak ngeh juga siapa yang bener-bener actor utamanya. Yang jelas film ini dibintangin Revalina S Temat sebagai Menuk (btw, si Hanung seneng banget ya make Revalina di filmnya? :p), trus ada Agus Kuncoro sebagai Surya, Endhita sebagai Rika, Reza Rahardian sebagai Soleh, Rio Dewanto sebagai Ping Hen, sama Henky Solaiman sebagai Tan Kat Sun.

Lokasinya sendiri bertempat di Kota Semarang. Kota tua yang punya segudang sejarah. Setau saya di kota ini bioskop ama mall aja cuma 1 biji. Bener gak si? Sori kalo salah ya.. Tapi, setelah nonton film ini saya jadi pengen travelling ke Semarang deh. Hanung pinter banget nge-shoot angle-angle yang sadap dimata. Hehe..

Ceritanya sendiri tentang keragaman beragama dari latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Si Menuk yang muslimah dikisahkan bersuamikan seorang muslim taat yang sayangnya agak arogan yaitu si Soleh. Soleh sendiri pengangguran. Sementara Menuk kerja di restoran Cina milik Kat Sun yang punya anak si Ping Hen. Si Kat Sun diceritakan sebagai Konghucu yang taat namun toleran. Di restorannya, pegawainya yang muslim diberi waktu sholat dan dia membedakan cara memasak yang make babi atau yang haram dan yang halal. Kabarnya restoran yang dipake di film ini memang ada beneran di Semarang. Tapi gatau sih modelnnya toleran gini atau gak. :p

Nah, si Ping Hen ini dulu pernah punya “kisah” sendiri gitu sama si Menuk. Nah kebayang kan gimana perilaku si Soleh yang arogan ke Ping Hen yang walopun agak lebih diem tapi sama2 arogan.

Lalu ada juga Rika, seorang single mother pemilik toko buku yang tadinya muslim tapi baru saja menjadi Katolik. Dia “berteman” sama Surya, yang muslim, aktor gak laku alias figuran, dan sepanjang hidupnya kelihatannya bokek mulu. Rika sendiri membiarkan anaknya tetap Islam dan tetap mengajarkan amalan-amalan Islam pada anaknya. Agus Kuncoro yang bermain sebagai Surya disini jadi tokoh penghibur dengan tingkah-tingkah konyolnya. Tapi disini dia juga jadi tokoh “pro-kontra”. Secara karena bujukan Rika dan kekurangan duit, dia bersedia memerankan “Jesus” buat pementasan drama di gereja Rika.

Scene pas latihannya si Surya ni kocak banget deh. Apalagi dia latihan didalam mesjid (dia tinggal di masjid karena diusir dari kosannya). Dan kepergok ama si ustadz. Ustadznya disini digambarin orang yang toleran juga. Dia bilang pas Surya diskusi ama si Ustadz buat nerima tawaran untuk peran “kontroversial” ini atau gak, asal hatinya tetap muslim, ya gakpapa.

Overall, film ini berani banget karena ngangkat tema kayak gini dan beda. Banyak scene-scene yang bikin mikir, gerem dan mengharukan. Sempet juga ada adegan lucu. Ada lagu-lagu Sheila On 7 yang sempet jadi backsound-nya. Nostalgia banget dan saya ngerasa kok cocok banget ya sama settingan kota Semarangnya. Hehe.. Apa karena SO7 asalnya dari Jogja (loh?). Trus ada juga celetukan bahasa Jawa yang sempet keluar. Walaupun agak kaku sih menurut saya. Mungkin kalo yang bukan orang Jawa gak terlalu aware ya?

Oya, disini juga muncul Glenn Fredly loh! Dia jadi temen gerejanya Rika. Tadinya saya gak notice. Soalnya dia jadi agak gemuk (dan jadi mirip Keith Martin gitu) setelah lama gak keliatan di TV. Tapi ternyata aktingnya lumayanlah.

Yang sedap dipandang mata buat cewek-cewek tentunya si Rio Dewanto yang jadi Ping Hen yang awalnya jadi anak pembangkang karena gak mau ngurus restoran orangtuanya. Dan sama sekali gak toleran, gak seperti bapaknya, karena dibakar rasa cemburu sama si Menuk yang menurut dia memilih menikah sama Soleh hanya karena taat sama agamanya aja. Tapi entah kenapa aktingnya agak kaku trus pas marah agak gak pas aja ya?

Agus Kuncoro sudah saya sebut diatas. Kocak. Hehe.. Endhita sebagai Rika. Secara model ya.. Dia jadi single mother yang cantik dah. Lumayan meyakinkan aktingnya. Apalagi pas dia bilang “Saya pindah agama, bukan karena mendustakan Tuhan” Waahh.. Dan pas di gerejanya dia mendeskripsikan apa arti Tuhan bagi dia dengan “Tuhan itu Ar-Rahim, Ar-Rahman, ..(dan asmaul husna lainnya..)” mungkin karena dia ngertinya itu pas di Islam dulu ya?

Revalina S. Temat sebagai Menuk, aktingnya mirip-mirip kayak pas dia di Perempuan Berkalung Sorban. Tapi disini dia lebih “nrimo”. Reza Rahardian? Sebagai Soleh, saya gak bisa ngebayangin orang laen yang bisa lebih cocok jadi orang nyebelin kayak dia. Haha.. Sukses deh nyebelinnya. Eh, tapi taunya pas di ending dia kedapetan scene yang bikin dia kelihatan jadi orang baik gitu. Haha.. Tauk deh, tapi menurut saya kok jadi dipaksakan gini scene si Soleh jadi penyelamat? Seperti menyelamatkan image islam fanatik seperti Soleh. Mungkin Hanung takut dihujat ya? Sayangnya masih tetep banyak pro-kontra, mas! Peace! Hehe

Oya, karakter nyebelin yang ternyata bisa lebih nyebelin dari si Soleh jatuh sama Si Ibu Kos yang super duper nyebelin. Sumpah! Selamat, Ibu Kos anda mendapat Award Peran Ter Rese di film tanda tanya versi sabilablabla.blogspot.com. Hehe..

Hmm.. versi Peran dengan Akting Favorit buat saya jatuh ke Henky Solaiman sebagai Tang Kat Sun deh. Disini gue suka banget dengan acting si aktor veteran ini yang kayaknya bapak-bapak baik banget. Mengubah pandangan gue sama ras yang perannya dia maenin ini. Halah… Selamat Koko Tang Kat Sun. Hehe..

And.. Award untuk Peran Ter-Unyu gw kasi ke anaknya si Rika. Si Abi!!! Yang tembem keriting yang gue gatau nama aslinya siapa. (Ada yang tau?) Maaf ya dek. Tapi kamu unyu banget deh. Apalagi pas dia mengalami masa-masa bingung karena Ibunya pindah agama dan dia gak ngerti. Trus ngambek deh. Sarapannya dibawa kekamar.. Uuuhh.. Cute.. Hehe..

Oya. Kenapa film ini jadi pro kontra? Setelah riset kecil-kecilan, akhirnya gw ngerti alasan-alasan kenapa orang-orang dari berbagai kalangan kontroversi dengan ni film. Nih alasannya :

1. Para ulama merasa kalau film ini menyebarkan paham pluralisme dan syirik modern.

2. Paham pluralisme dianggap karena ini film dirasa telah menyatakan semua agama itu sama dan (mungkin) tuhan kita semua juga sama.

3. Soleh yang jadi Banser NU, bilang “akhirnya saya dapat pekerjaan”. NU sendiri gak suka dengan kata “kerjaan” ini. Menurut mereka menjadi Banser adalah panggilan hati dan bukan suatu profesi karena mencari duit semata.

4. Tokoh agama yang terlalu toleran juga jadi masalah. Contohnya si ustadz yang melerai perkelahian antara Ping Hen dan jemaat masjidnya, dan membiarkan si Surya mengambil peran Yesus. Dan si pastor gerejanya si Rika yang yang membolehkan Surya yang seorang muslim jadi Yesus. Dia bilang kata-kata yang saya suka yang saya kutip diatas tentang sebuah drama yang tidak akan menghancurkan moral umat. Mungkin menurut yang ngritik seharusnya tokoh agama gak boleh terlalu gak meihak kali ya?

5. Nah, ada pro kontra lagi tentang karakter non-muslim yang katanya terlalu toleran dan yang muslim ada yang terlalu fanatik. Dan katanya menjelekkan image Islam. Dan malah ada yang nanya si Hanung yang bikin film ini muslim bukan si? Kok bikin film kayak gini? Contohnya si pastor itu, sama si Rika, dia murtad tapi ngajarin anaknya niat puasa dan selalu nganterin ngaji anaknya. Yang ngritik bilang sosok murtad gak seharusnya seideal ini. Sementara ada Soleh yang aarogan dan agak berlebihan. Dan disini juga diceritain orangtua si Rika yang gamau ketemu si Rika setelah anaknya pindah agama. Kan ada juga karakter ustadz yang juga muslim yang toleran tuh? Iya, bener. Tapi katanya itu trik aja buat menghaluskan karakter muslim si Soleh yang terlalu berlebihan. Padahal dasarnya si Soleh cemburu aja sama Ping Hen.

6. Intinya pada bilang Si Hanung Bramantyo ini kurang riset dalam bikin film ini. Secara temanya controversial dan ditayangkan di Negara yang semuanya bisa dijadiin berita trending topic dari ulat bulu sampe polisi joget. Hehe.. Seharusnya riset dulu sampe bleketek. Tapi tetep semangat ya mas Hanung! Hidup sineas Indonesia yang anti horror esek-esek!! :p

Ya gitu deh. Kalo ada yang mau nambahin silahkan. Dan maaf-maaf kalo ternyata ada yang gak bener. Nah, komentar gue tentang di-banned-nya film ini ada di awal post ini aja ya.. gue gak mau komentar lagi. Hehe. Tapi Alhamdulillah gw tetep yakin ama keyakinan gue sekarang kok. Gue juga jadi lebih ngerti arti tenggang rasa antar umat beragama (PPKN bgt yak? :p) Pulang ke rumah setelah nonton ni film gue tetep sholat dan gak berpikir pengen ke gereja pas paskah kemaren tuh! Hehe..

Oya, film ini diberi judul “?”, karena emang belum ada judulnya loh! Dan ada sayembara buat ngasi judul film ini. Hehe.. Padahal filmnya udah tayang juga gitu ya? Taktik Marketingkah? No comment, fellas! Pokoknya, daripada lu pada nonton film hantu ngeseks, mending nonton film ini aja. Hehe.. Hidup Film Indonesia!!

Tambahan.. karna diawal posting gw udah ngutip quotes yg gw suka dari si Pastor/Pendeta (sori gw lupa dy pastor katolik atw pendeta protestan.. :p) Jadi biar balance kyk ni film gw kutip percakapan si Ustad ama Surya yg lagi mendalami peran Jesus-nya didalem masjid.

Surya : Ustad, gimana caranya biar dihormatin?

Ustad : Hmm.. Jangan minta dihormatin!!

Nancep banget, ustad!! :))

Movie : Crazy Little Thing Called Love

“The bottom of the heart. When we think of him, we’ll feel like.. umm.. Always feel a little pain inside. But we still want to keep him”

Thailand ternyata ga cuma bisa bikin film hantu aja looh!! Udah nonton “Hello Stranger (2010)” atau “Bangkok Traffic Love Story (2009)”? Film drama satu ini menurut gue juga layak tonton deh. Dibintangi oleh Pimchanok Luevisetpaibool sebagai Nam dan Mario Maurer sebagai Shone. Settingan-nya pas jaman-jaman sekolah. Tebakan saya sih jaman SMA. Tapi seragamnya biru tua kayak SMP trus masa anak SMA yang cowoknya masi pake celana pendek si? Oke. Gak penting juga si..

Pokoknya ini film yang ringan dan enak banget ditonton buat refreshing pas weekend. Apalagi buat cewek-cewek. Karena setting pas masa sekolah juga kita jadi berasa ni film “gue” banget. Karena banyak scene-scene yang pasti kita semua pernah ngalamin. Kayak nyari jalan muter buat ke wc pas jam pelajaran biar sengaja lewat depan kelas gebetan dan bisa ngintip-ngintip ngeliat si “dia”. Punya tempat favorit sehabis pulang sekolah buat mantau si gebetan. Diam-diam ngasih kado. Deg-degan gak karuan kalo pas-pasan sama si “dia”. Sampai percaya mitos-mitos konyol tentang cinta-cintaan. So… cute!!


Si Nam disini ceritanya karakter utama protagonis yang punya status sosial minoritas di sekolah, kacamataan, geek, dan minderan karena gak cantik/popular dan kulitnya item (iya, sama kayak kita dan banyak asian people lainnya orang Thailand juga percaya putih = cantik). Dan si Nam ini suka banget sama si Shone yang ganteng, jago main bola, gentle. Pokoknya bintang sekolah, cokiber(cowok kita bersama :p) , whatever it called. So.. dengan bantuan tiga sahabat karibnya dia berusaha banget untuk meningkatkan kualitas dirinya agar bisa “kelihatan” mulai dari memperbaiki penampilan, nilai ujian, sampai akhirnya dia juga sempet kepilih jadi peran utama untuk drama “Snow White” di sekolah. Sayangnya disini klub drama ceritanya gak populer, yang populer disana adalah klub tari tradisional Cina dimana yang dipilih adalah cewek-cewek cantik, luwes, dan feminim. Cuman klub drama inilah yang jadi titik balik transformasi Nam. Hehe..

Ketauan jalan ceritanya? Kata kuncinya “transformasi”. Haha.. Anyway, isu persahabatan, cinta pertama, dan kekonyolan ditambah alur cerita yang ngalir dan emosi yang naik turun (antara, ketawa, kesengsem senyum-senyum sendiri, sampe terharu) jadi bikin film ini emang enak buat ditonton. Ending-nya? Ada kejutan yang gue suka banget yang ditujukan ke Nam. Adegan sebelum ending yang ada Shone-nya menurut gue juga so sweeeettt banget. (Check out sendiri ya! Gw gak mau jadi spoiler :p). Tapi agak klise si emang akhirnya. However, ada juga adegan-adegan mengharukan yang bikin gue hampir nangis. Trus ntar juga bakal ada masalah “orang ketiga” gitu. Ini bagian yang agak klise. Makin klisenya lagi, scene “transformasi” disini juga kurang terasa prosesnya. Kesannya “gilak udah bagus aja jadinya”, ngerti kan maksudnya? :p

Aktor cowoknya si Mario Maurer, katanya juga aktor muda Thailand yang lagi digandrungi banget sama cewek-cewek Thailand sana. Si prince charming ini emang cukup enak dipandang selama hampir 2 jam durasi film. Trus di cover depan dvd-nya juga ada tagline “based on a true story”. Tapi saya belum riset lebih lanjut. Jadi kalo ada yang tau ini beneran true story atau gak, kasi tau ya!!.. Klo emang bener, bolehlah kita percaya ternyata emang kejadian Upik Abu jadi Cinderella atau mungkin “Royal Wedding” (yang sekarang jadi trending topic -___-“) itu emang mungkin bisa saja terjadi. Dengan satu syarat, USAHA, teman-teman! Karakter Nam disini digambarkan cukup gigih buat mendapatkan apa yang dia inginkan (terlepas dari karakter minder dan masa khilafnya). Dan dia bisa membuat cinta monyetnya jadi motivator positif buat meningkatkan kualitas dirinya sendiri.

So.. Abaikan aja logat aneh para aktor Thailand-nya (yang kedengeran kayak “paknamtukpaktak”.. hehe..), scene-scene aneh dari guru-guru konyol (yang menurut gw bikin filmnya agak “kurang”), adegan bertransformasi yang kurang mendalam dan nikmati aja nostalgia masa-masa sekolah dulu, senengnya punya geng pas SMA dan gimana “enchanting dan charming”nya masa-masa berdebar cinta pertama di sekolah dulu. Lutuna.. :p

Oya, anyway, thanks buat kayina yang udah minjemin dvd-nya!! (Dasar gak modal! :p)

Kamis, 28 April 2011

Shoe Philosophy

These are the result of work team. Specially made for Philosophy Subject task. Hehe.. Are you wonder what we've done to this lovely heels in such a Philosophy Class? Me especially love the blue one. :)
Originally sketched, drawn and designed by Tamma, Ijoh, Karina, and Me!! :D
And manually drawn by maries water colour

design is design

the pic here

Ada yang tau "Design for Life"nya Phillipe Starck yang pernah tayang di BBC? Woah.. especially for you who into the product design, this is really inspiring show!! Me personally love the way of thinking and stats from the main leader of this show, Phillipe Starck, who also well-known designer and I adore him so much as a designer (he also has the unique accent when talking :p). The show was located in Paris!!! Where the Starck's design agency was based. These are the quotes from Starck in this show that I love the most!!

“I am a Professional Dreamer”

“We are NOT AN ARTIST, we must be proud to just make chairs, one of the most difficult things to do, a lot more difficult than make a sculpture”

The second statement came when he heard the explanation from one of the participant/student about her unique chair design (that bring her to the show). She said it's actually kind of sculpture. And Starck kinda hate that argument. Well, it's true. Making a well-designed chair is not that easy. Trust me! I've been suffered for it!! haha

Senin, 11 April 2011

Hmm.. Library..



Yak!! The picture above was my perspective drawing for furniture business class this semester (don't know why it been called as 'busineess' furniture.. I don't feel any business sense in this class :p) Look easy? Yeah.. If you used to, but it's a looooong time ago since I draw full space perspective like this one. So I worked it pretty hard. I pretty enjoyed it actually. To draw the interior was refreshing. I've been pretty bored with same drawing style lately. It didn't work out that nicely though. But I was glad to do it. Well, the score.. I've got what you called as my "permanent-mark" only required in this class. Yeah.. you can see it in the picture below, where the score was scratched on..

Hehe.. Can't you see the mark on it in red fine marker? It was pretty cruel actually. You can tell the problem that the space was too narrow that maybe it became the unforgivable thing. Well, well.. score is just score. You won't die even if you get an E or even F for this. Furthermore, the concept should be conventional and less playful because that's what the lecturer want (or what he's been always intrinsically suggested). So you won't find anything new or eye catching in that interior. Haha.. Do I look like annoyed? Yes, a bit. Okay, I hope the guy who gave me this mark will never found out this blog! I tried to take a lesson that it wasn't about was it proper result or not, but I just couldn't be too satisfied about my work just because I worked it late at night with glasses of caffeine. Don't you agree?? Afterall, thank you for watching.. :))

manually drawn by : drawing pen, colour pencil, dry pastel

Up and Cheer


Become slightly bored with my shoes project, even that it was good to get this project. But I have to face it all along this semester. Feel nice just if I can make an illustration about this shoes. I don't really good to do this illustration/graphic stuff. But don't mind.. It's just doodling anyway.. :p

manually drawn by : drawing pen (0.1, 0.3), black marker (broad and fine), reeves dry pastel

Shoojo Series




actually it meant to be one same girl picture with her each different style, but it doesn't seem to be that success, right? Don't mind.. it's just doodling anyway :p

manually drawn by : drawing pen (0.3 . 0,1), maries (yes i'm poor) water colour

Sabtu, 09 April 2011

The Old Starry Night




Ceritanya dulu saya ini sering ikutan observasi bintang pas SMA. Trus ikut-ikutan observasi sama HAAJ, Himpunan Astronom Amatir Jakarta di Planetarium Jakarta yg deket TIM. Rasanya seneng banget begadang malem-malem sama temen-temen diatas atap sekolah atau di lapangan IPB yang gelap banget nungguin dini hari karena saat-saat itu langit paling jelas dan awan gak membayang. Bawa-bawa senter biar bisa saling ngeliat muka masing-masing sekalian ngamatin peta bintang dan peta bulan. Apalagi kalau ada bintang jatuh atau fenomena alam lainnya. Ngeliat milky way yang indah, rasi scorpio yang akan keliatan klo dini hari, asteroid yang kecil banget jarang keliatan, planet mars yang merah kecil. Bulan terang yang paling keliatan jelas. Macem-macem. Pemandangan ke atas langit yang luaaaass banget dan keliatan jauuhhh dan keciill banget, walaupun udah pake teropong impor buatan jerman yang seharga motor bebek itu kita jadi ngerasa kecil banget, sekaligus damai dan deket sama Yang Kuasa. Kalo soal ilmu science-nya sih, bisa dibilang udah merembes semua. Hehe.. Apalagi pas iseng ikut olimpiade astronomi. Yang ternyata hitungan fisika-astronomi itu lebih butek dari fisika biasa. God! How I hate the physics!! Padahal tadinya sempet mempertimbangkan masuk jurusan Astronomi ITB loh!! Satu-satunya di Indonesia dan klo gak salah peminatnya dikit, jadi mungkin (mungkin ni ye..) gampang masuknya. Gatau deh sekarang.. Saya bertahan sebagai observer peta bintang amatir aja deh..


sumber: semuanya jepretan camdig olympus jaman jebot :p (fotonya bulan mulu, karna si olympus ga sanggup moto bintang)

Di Bogor langitnya masih lumayan terang, lumayanlah dibanding di Jakarta yang udah sumpah-parah-banget 'polusi cahayanya' sehingga langit bakal keliatan agak merah saking borosnya cahaya sekaligus polusi udara (ya.. polusi udara juga mempengaruhi kejernihan langit) di Jakarta. Di kota Surabaya ini belum nemuin komunitas kayak di SMA atau HAAJ. Surabaya sih menurut saya gak separah jakarta langitnya. Apalagi di Malang yang masih oke, ditambah hawanya yang mendukung jadi berasa di Boscha-Lembang. Hehe.. Ada yang tau perkumpulan astronom amatir di Malang sana gak?? Males, sibuk (sibuk apa lu?), kuliah, lain-lain.. bikin prioritas mencari komunitas astronom gini jadi terbengkalai. Tapi ketika dapat kabar, temen-temen di bogor gathering bwt observasi bintang di SMA atau di HAAJ terutama pas lagi ada fenomena langit kayak "Supermoon" kemaren.. Make me miss this moment so damn much.. Ignoring the bugs around us.. waiting the cloud faded and greeting the stars and the other space creatures appear.. Woahh..
When did the Last Time
you buy


Original, Legal Music??


Rabu, 06 April 2011

Oldies Cutie




Sumber : gap.com, newbalance.com, nitrolicious.com

Vintage Trainer Sneakers!! Anyone?? :)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...